KISAH NYATA ANAK DURHAKA MENINGGAL DI SAMPING MAKAM IBUNYA
Wajib Baca
ANAK DURHAKA MENINGGAL DI SAMPING MAKAM IBUNYA.
Kasihan ibu ini semua anaknya durhaka. Kejadian ini di alami seorang ibu yang ditinggalkan oleh anaknya di Panti selama tiga taun dan tidak dijenguk se-sekalipun.
Anak durhaka ini langsung mendapat balasan di dunia, yang tentunya di akhirat juga akan menuai hasil dari amal perbuatannya...wallahuaklam, hanya Allah SWT yang Maha Tahu.
@SELAMAT MEMBACA@
Kejadian ini dialami oleh seorang ustadz
(saya tidak menyebutkan insialnya).
Suatu hari saya pergi ke satu Rumah Panti Jompo, seorang sahabat meminta bantuan agar saya dapat menyalurkan bantuan kepada orang miskin disana.
Saya belikan kain sarung, roti, dll.
Kemudian pergi ke Panti Jompo yang saya kenal tersebut, tidak usah saya sebut namanya.
Saat kendaraan kami samapai di Panti Jompo tersebut, tiba-tiba ada seorang ibu tua berlari dari Asrama Panti mendekati saya.
"Ye..."
Ye..."
"Anak aku datang"
"Anak aku datang"
"Senangnya anakku datang..."
Saya tidak mengenal beliau siapa, tapi Ibu itu memeluk saya, dia cium saya, perempuan yang sudah tua itu berkata.
"Nak..."
"Kenapa kamu tinggalkan ibu disini nak, ibu mau pulang..."
"Ibu rindu rumah kita nak..."
Saya waktu itu, hampir tak bisa berkata-kata. "Ya Allah..."
Saya coba mengucapkan kata.
"Bu..."
Saya pegang tangannya, saya lihat mukanya, kemudian beliau bilang.
"Sampai hati nak, kamu tidak mengakui ibumu ini nak"
Saya bayangkan, bagaimana perasan beliau seperti begitu merindukan kepada sosok anaknya.
Saya coba berpura-pura, seolah-olah saya adalah anaknya, saya berkata.
"Bu..."
"Maafkan saya ya..."
Saya pegang tangannya, saya ajak duduk bilau di kursi, kemudian saya ambil sepotong roti, dll.
Saya coba suapkan ke-mulut beliau,
Tak terasa air mataku menetes, pikiranku membayangkan, seorang ibu yang sedang merindukan anaknya sudah sekian lamanya tak bertemu.
Bayangkan bila kita sebagai anak, yang sekian lama tak bertemu dengan ibu kita, kemudian kembali dan bertemu. Kita harapkan selalu ridho restunya, sungkem kepada beliau, kita peluk, sayangi, kasihi mereka, setelah itu kita ambilkan sepotong roti dan suapkan kepada beliau.
Bagaimana perasaan beliau ?
Bagaimana perasan kita ?
Saya coba usap air matanya yang meleleh dipipi beliau, terus
beliau pegang tangan saya,
Subhana Allah...
Saya bisa merasakan bagaimana perasaan beliau yang begitu rindu kepada anaknya.
Saat saya hendak pulang, dia pegang kaki saya sambil berkata...
"Nak..."
"Jangan tinggalkan ibu nak ibu mau balik, ibu mau pulang nak"
Saya merasa kasihan melihat ibu ini, Akhirnya saya putuskan untuk minta izin dengan pihak pengawas panti di situ.
Subhanallah....Ketika saya melihat data beliau ternyata anaknya ada lima orang. Bahkan yang paling besar bergelar Tan Sri, orangnya memang kaya punya nama besar, dan orang hebat.
Waktu saya izin pulang, beliau pegang baju saya, beliau bilang mau ikut saya pulang, kemudian saya bilang kepada beliau.
"Ibuk..."
"Tapi di mobil ada banyak barang",
"Tak apa" kata ibu itu,
"Saya duduk sama barang-barang,
Itu".
Akhirnya saya izin ke pengelola panti untuk membawa ibu itu, selama lima hari saja.
Kemudian kami Pulang ke rumah, ketika sholat subuh saya jadi Imam beliau makmum di belakang.
Saya baca doa, selesai berdoa saya tengok beliau kebelakang. Air mata beliau jatuh menetes, saya salami beliau, saya cium tangannya,
Saya bilang...
"Bu...Maafkan saya ya..."
Waktu itu saya tidak membayangkan,
Kalau ibu saya sudah meninggal. Tapi saya anggap ibu ini adalah ibu saya sendiri, sebab saya tau kalau beliau juga rindu pada anak-anaknya.
Di hari ketiga di rumah, setelah solat Isya'. Selesai doa saya salami beliau,
Dia lapisi tangannya dengan kain mukena-nya.
Saya bilang...
"Bu..."
"Kenapa ibu lapisi tangan ibu ?"
"Dua hari yang lalu ibu saya salami, ibu tak melapisi tangan ibu."
"Kenapa hari ini ibu lapisi tangan ?"
Dia bilang...
"Ustads..."
"Kamu bukan anak saya kan..."
Subhanaallah...
Tiba-tiba dia sebut nama saya "Ustads".
Saya bilang...
"Kenapa ibu panggil saya ustads ? "
"Saya anak ibu..."
Dia berkata...
"Bukan nak..."
"Kalau anak saya dia tak akan seperti ini, kalau anak saya dia tak akan jadi imam saya".
"Kalau anak saya dia tak akan suapi saya makan..."
Bayangkan sahabat-sahabat bagaimana perasaan ibu ini,
spontan saya pegang beliau, saya peluk, saya tidak mampu menahan tangis.
Saya bilang...
"Bu... "
"Walaupun bukan ibu saya, tapi saya sayang ibu seperti ibu saya..."
Saya pegang tangan ibu ini...
Walaupun bukan ibu saya, saya tau hatinya sangat rindu dekat dengan anaknya. Saya pandang wajah beliau.
Saya bilang...
"Bu..."
"Walaupun ibu saya telah tiada"
"Tapi ibu boleh menjadi ibu saya, tinggal bersama kami bu."
"Ibu duduklah di sini..."
Saat makan, saya suapkan nasi ke mulutnya. beliau muntahkan balik makan dari mulutnya.
Saya tanya...
"Kenapa bu ?"
Tiba-tiba saya lihat wajahnya pucat, kemudian saya angkat beliau dan
panggil ambulan saya bawa kerumah rumah sakit.
Waktu di RS, saya ambil kepalanya dan saya bantu baringkan ibu ini,
Dia pegang tangan saya.
Dia berkata...
"Ustads..."
"Kalau saya mati, tolong jangan beritahu anak saya, satupun jangan."
"Kalau saya sudah mati, jangan beritahu mereka di mana makam saya."
"Kalau mereka tahu di mana kubur saya, jangan ijinkan mereka pegang batu nisan saya..."
Saya pegangi beliau, saya berkata...
"Bu..."
"Jangan ngomong seperti itu,
Bu..."
Isteri saya menangis di sebelah,
Anak saya menangis di sebelah ikut memegang dia,
Kami pegang dia...
"Bu..."
"Jangan ngomong seperti itu,
Bu..."
Dia geleng kepala, rupanya itulah saat penghujung hayatnya ibu. Beliau meninggal di atas ribaan saya dan keluarga di rumah sakit itu. Beliau meninggal dalam pelukan saya.
Saya doakan Ibu Hj. Khalijah ini ruhnya mudah-mudahan bersama para Salafusoleh, mohon do'akan juga sahabat-sahabat semua ya...kirimkan Al-Fatihah kepada Ibu Hj. Khalijah. Terimakasih....
Sahabat,
Bila kita masih ada ibu, tolonglah taat pada ibu kita, jangan durhaka pada ibu kita, jangan tinggalkan dia di Panti Jompo. Kita sayangi dengan tulus penuh kasih, seperti beliau menyayangi kita. Merawat kita waktu masih kecil dulu, dengan penuh kesabaran dan perjuangan guna menyukupi kebutuhan kita, guna menyekolahkan kita, dll.
Sahabatku,
Saat ibu kita sakit kita jaga dia, kita rawat dengan sungguh-sungguh, coba
Pijat-pijat kepala dan kaki ibu kita.
Sahabat-sahabat coba tanyakan kepada ibu kita...
"Bagaimana penderitaan beliau saat mengandung kita dulu ?
Bagaimana sakitnya ibu saat melahirkan kita dulu ? Merawat kita hingga dewasa dengan penuh perjuangan dan kesabaran.
Tanyakan ibu kita ....
Sahabatku....
Kalau kita tanya sudah tentu air mata ibu kita akan jatuh, tidak bisa diucapkan bagaimana kasih ibu kepada kita, tidak akan terhenti sepanjang waktu.
Sahabat-sahabat semua...
Selepas wafatnya ibu ini, ternyata berita kematian beliau sampai juga kepada anaknya yang sulung.
Anak dia terus telefon saya...
Apa anaknya bilang pada saya...
"Saya akan bawa anda ke pengadilan". "Saya akan tuntut anda telah membawa keluar ibu saya dari dari Panti Jompo".
Padahal 3 taun dia titipkan ibunya di Panti Jompo, dia tak pergi melihat sesekalipun.
Sebab itu mungkin beliau rindu,
Hingga beliau tak bisa membedakan saya dengan anaknya, wallahuaklam...
Akhirnya saya tunggu,
Tunggu punya tunggu tidak ada kabar hampir setahun lebih. Ketika
saya pergi pengajian di Masjid di daerah pecinaan.
Ketika selesai pengajian datang seorang lelaki memeluk saya.
Menangis dalam masjid, orang dalam masjid heran, ada apa ini.....
Saya tanya pada dia...
"Pak..."
"Ada apa ini ?"
"Ada masalah apa...?"
Dia berkata dalam keadaan menangis...
"Ustads..."
"Tolong kasih tahu di mana makam ibu saya ustads?"
"Tolong kasih tau di mana kubur ibu saya ?"
Saya bilang...
"Kenapa hari ini baru tanya kubur ibu kamu ?"...
Dia bilang...
"Tolonglah ustaz..."
"Saya mau jumpa ibu saya ustads,
Sayalah orang yang bergelar Tan Sri yang mau menuntut ustaz saat itu"
"Saya sekarang ini sudah bangkrut ustads,,,
Isteri saya meninggal kecelakaan
Rumah disita bank
Mobil mewah saya semua dah disita bank".
"Tinggal satu saja,
Motor tua itu..."
Saya berkata...
"Saya bisa tunjukkan makam ibu kamu, tapi dengan satu syarat".
"Kamu jangan pegang batu nisan ibu kamu..."
Sampai di pemakaman, belum sempat saya turun dari mobil
dia turun duluan.
Saya melihat dengan mata saya sendiri dia jatuh tersungkur tangan nya menjadi hitam, Mulutnya tertarik sebelah yang tadi awalnya tangan dan mulutnya baik-baik saja.
Sambil memanggil-manggil...
"Ibu..."
"Ibuuu..."
"Ibuuuuu..."
Tiba-tiba saya angkat dia tidak jauh dari makam ibunya, belum sampai ke kubur ibunya, dia sudah hembuskan nafas terakhir disamping makam ibunya. Innalillahi wainnalillahi roji'un...
"Allahu Akbarrr..."
Mengucap panjang saya...
Allah SWT tunjukkan kepada saya langsung, dikehidupan ini kejadian nyata yang seperti ini. Sudah digariskan harus terjadi, hukuman atau azab saya tidak tau. Apakah dia termasuk anak durhaka apa bukan saya tidak tau. Na'udzubillahimindalik....
Semoga kisah ini menjadi pelajaran diluar sana, mbillah iktiar dari kisah di atas.
"Dan apabila mata ibumu sudah tertutup, maka hilanglah satu keberkatan disisi Allah,
Yaitu doa seorang ibu".
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita ini, untuk dijadikan pengajaran bagi kita semua. Amin ...
Sekian kisah nyata anak durhaka yang telah disaksikan oleh sahabat kita, mudah2an bermanfaat untuk dijadikan pembelajaran kita semua. Mudah2an yang sudah membaca kisah ini bisa menjadi anak soleh-solekha yang bisa membahagiakan orang tua kita didunia dan akhirat. Mudah2an kelak dikumpulkan dengan orang2 soleh terdahulu yang telah diberikan nikmat atas mereka. Amin
Di Dunia Tidak Ada Yang Pasti Sahabatku, Dan Mati Sudahlah Pasti.
ANAK DURHAKA MENINGGAL DI SAMPING MAKAM IBUNYA.
Kasihan ibu ini semua anaknya durhaka. Kejadian ini di alami seorang ibu yang ditinggalkan oleh anaknya di Panti selama tiga taun dan tidak dijenguk se-sekalipun.
Anak durhaka ini langsung mendapat balasan di dunia, yang tentunya di akhirat juga akan menuai hasil dari amal perbuatannya...wallahuaklam, hanya Allah SWT yang Maha Tahu.
@SELAMAT MEMBACA@
Kejadian ini dialami oleh seorang ustadz
(saya tidak menyebutkan insialnya).
Suatu hari saya pergi ke satu Rumah Panti Jompo, seorang sahabat meminta bantuan agar saya dapat menyalurkan bantuan kepada orang miskin disana.
Saya belikan kain sarung, roti, dll.
Kemudian pergi ke Panti Jompo yang saya kenal tersebut, tidak usah saya sebut namanya.
Saat kendaraan kami samapai di Panti Jompo tersebut, tiba-tiba ada seorang ibu tua berlari dari Asrama Panti mendekati saya.
"Ye..."
Ye..."
"Anak aku datang"
"Anak aku datang"
"Senangnya anakku datang..."
Saya tidak mengenal beliau siapa, tapi Ibu itu memeluk saya, dia cium saya, perempuan yang sudah tua itu berkata.
"Nak..."
"Kenapa kamu tinggalkan ibu disini nak, ibu mau pulang..."
"Ibu rindu rumah kita nak..."
Saya waktu itu, hampir tak bisa berkata-kata. "Ya Allah..."
Saya coba mengucapkan kata.
"Bu..."
Saya pegang tangannya, saya lihat mukanya, kemudian beliau bilang.
"Sampai hati nak, kamu tidak mengakui ibumu ini nak"
Saya bayangkan, bagaimana perasan beliau seperti begitu merindukan kepada sosok anaknya.
Saya coba berpura-pura, seolah-olah saya adalah anaknya, saya berkata.
"Bu..."
"Maafkan saya ya..."
Saya pegang tangannya, saya ajak duduk bilau di kursi, kemudian saya ambil sepotong roti, dll.
Saya coba suapkan ke-mulut beliau,
Tak terasa air mataku menetes, pikiranku membayangkan, seorang ibu yang sedang merindukan anaknya sudah sekian lamanya tak bertemu.
Bayangkan bila kita sebagai anak, yang sekian lama tak bertemu dengan ibu kita, kemudian kembali dan bertemu. Kita harapkan selalu ridho restunya, sungkem kepada beliau, kita peluk, sayangi, kasihi mereka, setelah itu kita ambilkan sepotong roti dan suapkan kepada beliau.
Bagaimana perasaan beliau ?
Bagaimana perasan kita ?
Saya coba usap air matanya yang meleleh dipipi beliau, terus
beliau pegang tangan saya,
Subhana Allah...
Saya bisa merasakan bagaimana perasaan beliau yang begitu rindu kepada anaknya.
Saat saya hendak pulang, dia pegang kaki saya sambil berkata...
"Nak..."
"Jangan tinggalkan ibu nak ibu mau balik, ibu mau pulang nak"
Saya merasa kasihan melihat ibu ini, Akhirnya saya putuskan untuk minta izin dengan pihak pengawas panti di situ.
Subhanallah....Ketika saya melihat data beliau ternyata anaknya ada lima orang. Bahkan yang paling besar bergelar Tan Sri, orangnya memang kaya punya nama besar, dan orang hebat.
Waktu saya izin pulang, beliau pegang baju saya, beliau bilang mau ikut saya pulang, kemudian saya bilang kepada beliau.
"Ibuk..."
"Tapi di mobil ada banyak barang",
"Tak apa" kata ibu itu,
"Saya duduk sama barang-barang,
Itu".
Akhirnya saya izin ke pengelola panti untuk membawa ibu itu, selama lima hari saja.
Kemudian kami Pulang ke rumah, ketika sholat subuh saya jadi Imam beliau makmum di belakang.
Saya baca doa, selesai berdoa saya tengok beliau kebelakang. Air mata beliau jatuh menetes, saya salami beliau, saya cium tangannya,
Saya bilang...
"Bu...Maafkan saya ya..."
Waktu itu saya tidak membayangkan,
Kalau ibu saya sudah meninggal. Tapi saya anggap ibu ini adalah ibu saya sendiri, sebab saya tau kalau beliau juga rindu pada anak-anaknya.
Di hari ketiga di rumah, setelah solat Isya'. Selesai doa saya salami beliau,
Dia lapisi tangannya dengan kain mukena-nya.
Saya bilang...
"Bu..."
"Kenapa ibu lapisi tangan ibu ?"
"Dua hari yang lalu ibu saya salami, ibu tak melapisi tangan ibu."
"Kenapa hari ini ibu lapisi tangan ?"
Dia bilang...
"Ustads..."
"Kamu bukan anak saya kan..."
Subhanaallah...
Tiba-tiba dia sebut nama saya "Ustads".
Saya bilang...
"Kenapa ibu panggil saya ustads ? "
"Saya anak ibu..."
Dia berkata...
"Bukan nak..."
"Kalau anak saya dia tak akan seperti ini, kalau anak saya dia tak akan jadi imam saya".
"Kalau anak saya dia tak akan suapi saya makan..."
Bayangkan sahabat-sahabat bagaimana perasaan ibu ini,
spontan saya pegang beliau, saya peluk, saya tidak mampu menahan tangis.
Saya bilang...
"Bu... "
"Walaupun bukan ibu saya, tapi saya sayang ibu seperti ibu saya..."
Saya pegang tangan ibu ini...
Walaupun bukan ibu saya, saya tau hatinya sangat rindu dekat dengan anaknya. Saya pandang wajah beliau.
Saya bilang...
"Bu..."
"Walaupun ibu saya telah tiada"
"Tapi ibu boleh menjadi ibu saya, tinggal bersama kami bu."
"Ibu duduklah di sini..."
Saat makan, saya suapkan nasi ke mulutnya. beliau muntahkan balik makan dari mulutnya.
Saya tanya...
"Kenapa bu ?"
Tiba-tiba saya lihat wajahnya pucat, kemudian saya angkat beliau dan
panggil ambulan saya bawa kerumah rumah sakit.
Waktu di RS, saya ambil kepalanya dan saya bantu baringkan ibu ini,
Dia pegang tangan saya.
Dia berkata...
"Ustads..."
"Kalau saya mati, tolong jangan beritahu anak saya, satupun jangan."
"Kalau saya sudah mati, jangan beritahu mereka di mana makam saya."
"Kalau mereka tahu di mana kubur saya, jangan ijinkan mereka pegang batu nisan saya..."
Saya pegangi beliau, saya berkata...
"Bu..."
"Jangan ngomong seperti itu,
Bu..."
Isteri saya menangis di sebelah,
Anak saya menangis di sebelah ikut memegang dia,
Kami pegang dia...
"Bu..."
"Jangan ngomong seperti itu,
Bu..."
Dia geleng kepala, rupanya itulah saat penghujung hayatnya ibu. Beliau meninggal di atas ribaan saya dan keluarga di rumah sakit itu. Beliau meninggal dalam pelukan saya.
Saya doakan Ibu Hj. Khalijah ini ruhnya mudah-mudahan bersama para Salafusoleh, mohon do'akan juga sahabat-sahabat semua ya...kirimkan Al-Fatihah kepada Ibu Hj. Khalijah. Terimakasih....
Sahabat,
Bila kita masih ada ibu, tolonglah taat pada ibu kita, jangan durhaka pada ibu kita, jangan tinggalkan dia di Panti Jompo. Kita sayangi dengan tulus penuh kasih, seperti beliau menyayangi kita. Merawat kita waktu masih kecil dulu, dengan penuh kesabaran dan perjuangan guna menyukupi kebutuhan kita, guna menyekolahkan kita, dll.
Sahabatku,
Saat ibu kita sakit kita jaga dia, kita rawat dengan sungguh-sungguh, coba
Pijat-pijat kepala dan kaki ibu kita.
Sahabat-sahabat coba tanyakan kepada ibu kita...
"Bagaimana penderitaan beliau saat mengandung kita dulu ?
Bagaimana sakitnya ibu saat melahirkan kita dulu ? Merawat kita hingga dewasa dengan penuh perjuangan dan kesabaran.
Tanyakan ibu kita ....
Sahabatku....
Kalau kita tanya sudah tentu air mata ibu kita akan jatuh, tidak bisa diucapkan bagaimana kasih ibu kepada kita, tidak akan terhenti sepanjang waktu.
Sahabat-sahabat semua...
Selepas wafatnya ibu ini, ternyata berita kematian beliau sampai juga kepada anaknya yang sulung.
Anak dia terus telefon saya...
Apa anaknya bilang pada saya...
"Saya akan bawa anda ke pengadilan". "Saya akan tuntut anda telah membawa keluar ibu saya dari dari Panti Jompo".
Padahal 3 taun dia titipkan ibunya di Panti Jompo, dia tak pergi melihat sesekalipun.
Sebab itu mungkin beliau rindu,
Hingga beliau tak bisa membedakan saya dengan anaknya, wallahuaklam...
Akhirnya saya tunggu,
Tunggu punya tunggu tidak ada kabar hampir setahun lebih. Ketika
saya pergi pengajian di Masjid di daerah pecinaan.
Ketika selesai pengajian datang seorang lelaki memeluk saya.
Menangis dalam masjid, orang dalam masjid heran, ada apa ini.....
Saya tanya pada dia...
"Pak..."
"Ada apa ini ?"
"Ada masalah apa...?"
Dia berkata dalam keadaan menangis...
"Ustads..."
"Tolong kasih tahu di mana makam ibu saya ustads?"
"Tolong kasih tau di mana kubur ibu saya ?"
Saya bilang...
"Kenapa hari ini baru tanya kubur ibu kamu ?"...
Dia bilang...
"Tolonglah ustaz..."
"Saya mau jumpa ibu saya ustads,
Sayalah orang yang bergelar Tan Sri yang mau menuntut ustaz saat itu"
"Saya sekarang ini sudah bangkrut ustads,,,
Isteri saya meninggal kecelakaan
Rumah disita bank
Mobil mewah saya semua dah disita bank".
"Tinggal satu saja,
Motor tua itu..."
Saya berkata...
"Saya bisa tunjukkan makam ibu kamu, tapi dengan satu syarat".
"Kamu jangan pegang batu nisan ibu kamu..."
Sampai di pemakaman, belum sempat saya turun dari mobil
dia turun duluan.
Saya melihat dengan mata saya sendiri dia jatuh tersungkur tangan nya menjadi hitam, Mulutnya tertarik sebelah yang tadi awalnya tangan dan mulutnya baik-baik saja.
Sambil memanggil-manggil...
"Ibu..."
"Ibuuu..."
"Ibuuuuu..."
Tiba-tiba saya angkat dia tidak jauh dari makam ibunya, belum sampai ke kubur ibunya, dia sudah hembuskan nafas terakhir disamping makam ibunya. Innalillahi wainnalillahi roji'un...
"Allahu Akbarrr..."
Mengucap panjang saya...
Allah SWT tunjukkan kepada saya langsung, dikehidupan ini kejadian nyata yang seperti ini. Sudah digariskan harus terjadi, hukuman atau azab saya tidak tau. Apakah dia termasuk anak durhaka apa bukan saya tidak tau. Na'udzubillahimindalik....
Semoga kisah ini menjadi pelajaran diluar sana, mbillah iktiar dari kisah di atas.
"Dan apabila mata ibumu sudah tertutup, maka hilanglah satu keberkatan disisi Allah,
Yaitu doa seorang ibu".
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita ini, untuk dijadikan pengajaran bagi kita semua. Amin ...
Sekian kisah nyata anak durhaka yang telah disaksikan oleh sahabat kita, mudah2an bermanfaat untuk dijadikan pembelajaran kita semua. Mudah2an yang sudah membaca kisah ini bisa menjadi anak soleh-solekha yang bisa membahagiakan orang tua kita didunia dan akhirat. Mudah2an kelak dikumpulkan dengan orang2 soleh terdahulu yang telah diberikan nikmat atas mereka. Amin
Di Dunia Tidak Ada Yang Pasti Sahabatku, Dan Mati Sudahlah Pasti.

hati-hati bro jangan durhaka sama bunda ayah ya...jadi anak yg soleh-solekha biar ganteng kalo cowok, maju mundur cantik kalo cewek ya....good next kisah nyata...
BalasHapus